Informasi Cepat Seputar Berita Pendidikan
Google NewsIndeks
Berita  

4 Periode Perkembangan Bulan Bahasa dan Serba Serbi Bulan Bahasa Indonesia

4 Periode Perkembangan Bulan Bahasa dan Serba Serbi Bulan Bahasa Indonesia
4 Periode Perkembangan Bulan Bahasa dan Serba Serbi Bulan Bahasa Indonesia

ASSYFA.XYZ | 4 Periode Perkembangan Bulan Bahasa dan Serba Serbi Bulan Bahasa Indonesia

Halo, Sobat Materi Lengkap! Tahukah kalian bahwa bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia? Bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia sejak tahun 1980, hingga saat ini. Bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa karena pada bulan ini terdapat peristiwa penting, yakni Sumpah Pemuda, dimana para pemuda mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mengikat keberagaman bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu.

Sebelum bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa daerah masing-masing yang berbasis bahasa Melayu, serta bahasa Belanda atau Jepang sebagai pengaruh dari imperialisme bangsa Belanda dan Jepang. Setelah Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia mulai digunakan untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun literal. Penggunaan bahasa Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ejaan bahasa Indonesia. Seperti apa perkembangan ejaan bahasa Indonesia hingga menjadi seperti yang kita ketahui sekarang? Yuk, simak uraian dibawah!

  • Ejaan Van Ophuisjen (1901 – 1947)

Ejaan Van Ophuisjen dikembangkan oleh seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda, Charles Adriaan Van Ophuisjen, bersama Nawawi Soetan Ma’moer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Van Ophuisjen mengembangkan transliterasi latin dari bahasa Melayu yang beraksara Arab, yang kemudian hasil transliterasi ini menjadi ejaan awal bahasa Indonesia. Ciri ejaan Van Ophuisjen adalah pengejaan bunyi huruf U dengan huruf “oe” dan bunyi sentak dengan tanda hamzah “ ‘ “

  • Ejaan Soewandi (1947 – 1972)

Ejaan Soewandi adalah ejaan bahasa Indonesia yang digunakan setelah proklamasi kemerdekaan, yakni pada 19 Maret 1947. Ejaan ini juga disebut ejaan republik, karena digunakan untuk menunjukkan semangat kemerdekaan. Ejaan Soewandi menyempurnakan ejaan Van Ophuisjen dengan beberapa ketentuan baru, seperti penulisan huruf U menggantikan “oe”, penulisan bunyi sentak dengan huruf k (tak, pak), dan penulisan kata depan dengan cara disambung. Pada masa ejaan Soewandi inilah, Kamus Bahasa Indonesia diterbitkan untuk pertama kalinya dengan memuat 23,000 kata.

  • Ejaan Yang Disempurnakan (1972)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) diresmikan pada 16 Agustus 1972, dengan Putusan Presiden no. 57 tahun 1972. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan bahasa Indonesia yang paling lama digunakan, yakni sekitar 30 tahun. Nama EYD kemudian kembali digunakan setelah dimutakhirkan menjadi EYD edisi V pada tahun 2022.
  • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (2009 – 2022)

Ejaan yang terakhir adalah ejaan bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang, yakni Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Ejaan PUEBI didasarkan pada Permendiknas no. 46 tahun 2009, untuk menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. PUEBI kemudian dimutakhirkan pada 18 Agustus 2022 dan berganti nama menjadi Ejaan yang Disempurnakan (EYD) edisi V.

Baja Juga :  SE tentang Sumber Informasi Pendukung Program Pembelajaran Bagi Satuan Pendidikan

Sobat Materi Lengkap, keragaman bahasa di Indonesia tidak dapat dipungkiri. Selain memiliki bahasa daerah yang banyak, bahasa asing juga memberikan pengaruh sebagai dampak dari globalisasi. Karenanya, semangat dalam melestarikan bahasa dan sastra Indonesia perlu didukung oleh kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Referensi:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/10/bulan-oktober-bulan-bahasa-dan-sastra